Blogger Template by Blogcrowds.

Jujur saja, waktu menerima tawaran untuk menyunting novel bergenre chicklit, aku agak bimbang. Akan mampukah aku mengerjakannya, mengingat aku nyaris "alergi" terhadap genre ini. Sebenarnya aku bukannya asing sama sekali pada chicklit, Confession of Shopaholic karya Sophie Kinsella kulahap dengan antusias saat awal-awal terbit. Genre ini menawarkan sesuatu yang lain, ringan, lucu, dan kadang membuatku mampu menertawakan kedangkalan perempuan metropolitan yang cenderung hedonis. Namun, karena kemudian begitu meruahnya genre ini memenuhi ranah perbukuan kita, aku pun dilanda kebosanan, dan akhirnya malah "alergi" pada chicklit. Terutama karena--menurutku--kualitas chicklit makin lama makin menyedihkan (peace deh untuk para penggemar chicklit..).

Kembali pada pengalamanku ketika ditawari untuk menyunting chicklit yang berjudul Confessions of A Call Center Gal. Eh, jangan-jangan isinya kayak Shopaholic-nya Sophie Kinsella, kok ada Confessions-nya, begitu pikirku waktu itu. Dan, betapa salahnya aku. Ketika naskah itu akhirnya kukuliti, perlahan aku dapat merasakan sesuatu yang berbeda. Ini dia chicklit yang kutunggu-tunggu selama ini. Sesuatu yang ringan, lucunya natural, dan yang terpenting tidak "dangkal". Yuk kubedah sedikit isi novel ini...

Madison Lee aka Maddy sedang galau. Ia baru lulus kuliah dan mendambakan pekerjaan di media cetak bergengsi. Namun apa daya, panggilan wawancara tak kunjung tiba. Yang ada malah penolakan. Lalu datanglah panggilan telepon dari sahabatnya, Karsynn aka Kars, yang menawarkan pekerjaan di tempat ibunya bekerja, sebagai gadis call center di perusahaan operator penyedia jasa telpon genggam.

Singkat kata, setelah melalui proses wawancara, Maddy dan Kars diterima di Lightning Speed, nama perusahaan operator itu. Kemudian dimulailah rangkaian perkenalan, pelatihan hingga ke pekerjaan yang sesungguhnya. Sungguh, aku tak pernah membayangkan harus bekerja dengan duduk dan berbicara terus-menerus selama 8 jam sehari. Uff! Dan di antara segala tantangan pekerjaan itu--dimaki-maki pelanggan, atasan sadis, tekanan peraturan--Maddy dan Kars pun mulai menjalin persahabatan dan...percintaan. Lalu muncullah tokoh-tokoh lain mewarnai chicklit ini. Ada Mika si cowok Belgia tampan--setampan Dewa Yunani!-- yang diincar Maddy, ada Truong--tetangga homo Maddy di kubikel sebelah yang suka pakai scarf Hermes, juga si cewek Bulgaria dengan penampilan bak model Victoria's Secret yang naksir Mika: Ingeborg. Oh..pokoknya mereka semua membuat kisah chicklit ini menjadi lebih hidup dan mampu menggambarkan suasana kerja yang nyaris sesungguhnya (mungkin karena Lisa Lim menuliskannya dari pengalaman pribadi dia).

Yang paling aku suka, Maddy dan Mika dua-duanya suka baca buku! Yap, kencan pertama mereka di perpustakaan (romantis gak sih punya cowok yang bisa diajak diskusi tentang buku?). Dan yang makin bikin aku excited, bacaan Maddy nyaris sama denganku. Sebut saja buku-buku Agatha Christie, Enid Blyton, Nancy Drew, Anne of Green Gables. Dia bahkan penyuka buku klasik juga: Jane Austen, Emily & Charlotte Bronte. Selain itu, pendirian Maddy terhadap membaca sama denganku. Kami sama-sama lebih suka baca koran daripada situs berita. Selain itu, pria idaman kita sama: Pierce Brosnan!... Di luar kesamaan minat, aku juga suka pribadi Maddy yang setia, berpendirian dan punya rasa kemanusiaan tinggi.

Membaca Confessions of A Call Center Gal ini sungguh membuatku sering ngakak sendiri. Lucunya lucu cerdas. Namun sekaligus anda juga menemukan nilai-nilai moral yang bisa anda renungkan. Pastinya anda pernah menelpon ke sebuah call center kan (atau malah anda bekerja di call center)? Atau bayangkan saja ketika anda menelpon ke customer service di operator seluler atau bank. Begitulah aku membayangkan kira-kira pekerjaan Maddy dan Kars, hanya saja tambahkan beban kerjanya dua atau mungkin tiga kali lipat. Selama ini kita tak begitu memperhatikan keberadaan mereka, bahkan mengacuhkan mereka. Apalagi karena biasanya kita menelpon call center saat kita punya masalah. Dan saat ada masalah, emosi kita cepat naik. Mendengar suara kalem si operator yang menanyakan hal-hal standar, rasanya pengen teriak saja, woii...aku ini lagi ada masalah, urgent nih, cepetan dong!

Sekarang bayangkan bagaimana posisi anda sendiri bila berada di tempat si operator. Bukan salah anda kan kalau telepon genggam anda tahu-tahu tak bisa dipakai menelpon? Tapi anda dimaki-maki dengan tidak manusiawi, bahkan dihina. Kalau itu terjadi di luar pekerjaan, tentu anda akan naik pitam dan balas teriak-teriak. Tapi ini masalah pekerjaan. Pekerjaan melayani. Anda tak bisa membentak-bentak pelanggan, melainkan tetap tenang sambil berusaha memberikan solusi. Sungguh! Setelah membaca buku ini aku baru menyadari betapa tinggi tingkat stress para pekerja di perusahaan operator.

Melalui Confessions of A Call Center Girl, Lisa Lim ingin mengajak kita untuk lebih menaruh simpati pada para pekerja call center. Lebih dari itu, jangan lah kita menganggap enteng suatu pekerjaan. Tak ada pekerjaan yang "rendah" asalkan kita melakukannya dengan jujur dan sesuai moral. Itulah yang kira-kira akan anda dapat di chicklit ini. Aku suka dengan gaya Lisa Lim bertutur yang natural, romance-nya tidak cengeng, meski kita mungkin agak tak terbiasa dengan budaya Amerika yang blak-blakan. Endingnya pun menyentuh, dan secara tak sadar aku pun ikut terharu ketika Maddy harus meninggalkan tempat kerjanya. Rupanya selama membaca dan menyunting kisah Maddy dkk di Lightning Speed, aku sudah merasa dekat dengan mereka semua, keseharian mereka seolah menjadi keseharianku juga.

Yang terakhir...aku bersemangat banget menunggu terbitnya buku ini, karena ini adalah novel pertama yang pernah kusunting. Terima kasih pada penerbit Gradien Mediatama yang telah memberiku kesempatan ini. Buat kalian yang suka membaca chicklit atau kisah romance, jangan melewatkan buku ini ya, yang baru terbit Januari 2012 dan saat ini sudah ada di toko-toko buku! *pesan sponsor :D*.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda